Langsung ke konten utama

Frekuensi dari Segala Sisi



Bukan membahas frekuensi tentang seberapa sering
Tapi ini mengenai frekuensi yang membuat kita nyaman
Pernah kan kalian mendengar istilah “teman yang sefrekuensi” (?)
Bukan melulu tentang hal-hal sama yang disukai sih
Tapi lebih kepada ketersinambungan yang membuat kita bisa “sefrekuensi”
Semakin dewasa kita tidak membutuhkan banyak relasi
Kita hanya membutuhkan dua atau satu orang saja yang “sefrekuensi” dengan kita
Nyatanya menemukan “frekuensi” yang sama itu bagai mencari jarum di tumpukan jerami
Orang terdekat dengan kita, yakni keluarga ternyata berbanding terbalik “frekuensinya”, bahkan ga jarang teramat sangat beda “frekuensi”.
Bahkan pasangan entah pacar atau suami maupun istri pun sering tidak “sefrekuensi”
Itulah asal muasal munculnya istilah “teman yang sefrekuensi”, mungkin (?)
Bolehlah kita ngobrol ngalor ngidul dengan teman tersebut
Tapi jangan menutup diri juga dari peradaban
Jangan karena tidak “sefrekuensi” lantas acuh tak acuh dengan orang lain
Belajarlah untuk menempatkan diri di manapun kita berada, istilah IPA nya adaptasi
Jangan berpikir picik hanya karena keluarga dan pasangan kita tidak “sefrekuensi” lantas mendiamkan dan marah-marah tidak jelas karena tidak memahami diri kita
Tuhan menciptakan manusia memang unik, berbeda satu dengan yang lainnya.
Anak kembar identik saja pasti memiliki perbedaan, entah dari sifat, kemampuan, maupun hobi.
Semua posisi (keluarga, pasangan, teman) memiliki porsi yang berbeda dalam kehidupan
Simpulannya, mari kita berpikir positif.

 

 

 

 

Komentar

  1. Bener sih, cari teman harus yg sefrekuensi. Bukan berarti kita bersama karna kita sama. Bukan. Tapi yg klop gitu. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya kalo ga klop kurang nyaman aja wkwk

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kriteria Penilaian Lomba Pidato dan Contohnya (Bahasa Jawa)

If you wanna copy my stories, you must include the source. Be a good people, arigatou~ Kriteria Penilaian Lomba Pidato dan Contohnya  Perhatikan baik-baik penjelasan kriteria penilaian dalam lomba pidato berikut ini  1. Kesesuaian tema, judul dan isi pidato Peserta pidato akan menyampaikan judul pada awal memulai. Isi adalah apa yang disampaikan dalam berpidato. Dalam hal ini ketentuan dalm lomba menjadi landasan. Jika judul sudah ditentukan maka otomatis semua peserta akan membawakan judul yang sama, namun jika hanya tema maka judul akan bervariasi. Dari situ penilai atau juri bisa mengukur kesesuaian tema, judul dan isi yang dibawakan 2. Sistematika pembawaan ( pembuka, isi, penutup) Sangat dasar dalam berbicara di depan publik termasuk berpidato mempunyai urutan pembuka, isi dan penutup yang harus dibawakan dengan tepat oleh peserta lomba pidato. Jika ada salah satu yang kurang maka akan menjadi nilai minus. 3.  Bahasa yang bagus Pertama bahasa...

RPP CERITA RAKYAT BAHASA JAWA KURIKULUM 2013 KELAS 7 SMP

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan               : SMP Negeri 3 Sukoharjo Mata Pelajaran                     : Bahasa Jawa Kelas /Semester                    : VII /I Materi Pokok                       : Cerita Rakyat Alokasi Waktu                     : 4 x pertemuan (8 jp) A.       Kompetensi Inti KI 1   Menghayati   dan mengamalkan   ajaran   agama yang dianutnya. KI 2   Menghargai dan men g hayati perilaku jujur, disil...

Crita Wayang "Srikandhi Madeg Senapati"

If you wanna copy my stories, you must include the source. Be a good people, arigatou~ Ing tlatah Jawa, wayang ngrembaka tumekan saiki. Wiwitane, wayang dadi sarana kanggo muji syukur lan atur panuwun marang Gusti Kang Murbeng Dumadi. Jalaran wayang nuduhake watak kang religius, ngabekti marang Gusti, lan iku kabeh watak kapribadene wong Jawa.   Wayang iku kabudayan asli Jawa. Ing tanggal 7 Nopember 2003 wayang wis diakoni marang UNESCO minangka kabudayan luhur bangsa Indonesia. Prastawa iki mratandhani yen donya ngakoni menawa wayang iku kabudayan kang luhur. Sapa wae sing gelem nyemak isi lan pitutur kang ana ing wayang bakal dituntun ing dalan kabecikan. Wayang iku asale saka tembung “hyang” kang tegese dewa. Wong kang ngalokake utawa mimpin pagelaran wayang diarani dhalang. Dene, wong sing nabuh gamelan lan ngiringi pagelaran wayang diarani niyaga. Crita wayang kang biyasane dadi lakon ing pagelaran wayang kulit iku njupuk saka crita Mahabarata lan Ramayana. Mahabarata ...